Home Blog Harga Rumah di Pinggir DKI Naik Drastis: Kenapa Harga Rumah di Pinggir DKI Meledak?
Harga Rumah di Pinggir DKI Naik Drastis: Kenapa Harga Rumah di Pinggir DKI Meledak?
Admin TownzHub
November 25, 2025
50
Fenomena harga rumah di pinggir DKI naik drastis membuat generasi muda makin sulit punya hunian. Bahas penyebab, tren, dan peluang dengan fokus harga rumah di pinggir DKI.
images

TownzHub - Fenomena harga rumah di pinggir DKI yang terus melonjak dalam beberapa tahun terakhir mulai membuat banyak orang terkejut. Jika kamu membandingkannya dengan kondisi dua dekade lalu, kenaikan tersebut terasa tidak masuk akal.

Dalam laporan pasar properti terbaru yang dilansir dari CNBC Indonesia, para analis menilai bahwa eskalasi harga tanah dan rumah di wilayah penyangga Jakarta, terutama Tangerang Raya, BSD, dan sekitarnya, telah bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan pendapatan masyarakat.

Perubahan Harga yang Tak Lagi Masuk Logika Zaman Dulu

Jika kamu mendengar cerita generasi yang tinggal di kawasan Tangerang Selatan pada tahun 90-an, mungkin sulit membayangkan bahwa tanah-tanah di daerah tersebut pernah dijual di kisaran Rp100.000 per meter persegi. Saat itu, banyak kawasan dianggap sebagai wilayah pinggiran yang belum tersentuh pengembangan modern.

Namun, narasi itu berubah total. Masuknya infrastruktur besar seperti jalan tol, ekspansi township premium, hingga pertumbuhan pusat bisnis baru membuat harga rumah di pinggir DKI meningkat dengan kecepatan yang jarang terlihat di daerah lain.

Salah satu pengamat properti menjelaskan bahwa sebelum 2004—saat akses tol menuju BSD belum eksis—harga rumah di kawasan itu masih di bawah Rp200 juta. Kini, daerah yang dulu dianggap “sunyi” justru menjadi salah satu kawasan dengan kapitalisasi pasar tertinggi di Jabodetabek.

Efek Domino dari Infrastruktur Besar

Kenaikan harga rumah di pinggir DKI tidak bisa dilepaskan dari pembangunan infrastruktur. Jalan tol baru, jaringan transportasi massal, hingga rencana ekspansi MRT dan LRT ke wilayah satelit membuat harga tanah otomatis terkerek naik.

Faktor yang paling berpengaruh meliputi:

1. Aksesibilitas meningkat, waktu tempuh lebih cepat.

2. Minat developer besar masuk, memicu kompetisi harga.

3. Masuknya kawasan bisnis dan komersial, membuat nilai tanah naik.

4. Percepatan urbanisasi, karena masyarakat mencari alternatif hunian lebih terjangkau.

Inilah alasan kenapa tanah kavling yang dulunya bisa didapatkan kurang dari Rp1 juta per meter persegi, kini melesat ke rentang Rp15–18 juta per meter. Bahkan beberapa titik yang dianggap premium sudah jauh di atas angka tersebut.

Generasi Muda Semakin Berat Beli Rumah

Banyak anak muda merasa memiliki hunian pertama kini semakin mustahil. Lonjakan harga rumah di pinggir DKI berbanding terbalik dengan pertumbuhan upah rata-rata. Di Jakarta sendiri, harga tanah residensial sudah menyentuh puluhan juta per meter persegi. Pondok Indah berada di kisaran 40 juta/m², sementara Menteng bahkan tembus 100 juta/m².

Sementara itu, rumah subsidi yang seharusnya menjadi peluang bagi pembeli pertama, justru semakin sulit diakses karena berbagai aturan administrasi perbankan.

Kondisi ini mendorong generasi Z dan milenial untuk mencari alternatif:

1. Hunian lebih kecil (cluster minimalis, rumah 2 lantai compact)

2. Apartemen transit

3. Kota satelit baru yang masih berkembang

4. Skema cicilan DP ringan dari developer

Perubahan gaya hidup dan preferensi juga mendorong banyak orang memilih tinggal di wilayah penyangga dibanding pusat kota, selama akses transportasinya mendukung.

Apakah Masih Ada Lokasi yang Harga Tanahnya ‘Masuk Akal’?

Meski banyak kawasan melonjak drastis, bukan berarti seluruh wilayah Jabodetabek tidak punya peluang lagi.

Beberapa titik masih menawarkan harga relatif terjangkau untuk pengembangan baru:

1. Sawangan (di bawah Rp7 juta/m²)

2. Wilayah outer Tangerang yang belum tersentuh ekspansi township besar

3. Kabupaten Bogor bagian barat

4. Bekasi perbatasan Karawang

Wilayah-wilayah ini dinilai masih punya ruang pertumbuhan nilai tanah jika dikembangkan oleh perintis developer dalam beberapa tahun ke depan.

Pengembang Juga Kewalahan

Kenaikan harga tanah tidak hanya membebani pembeli, tetapi juga developer. Untuk membangun township dari lahan mentah, modal awal yang dibutuhkan kini jauh lebih besar. Akibatnya, developer harus menetapkan harga jual rumah lebih tinggi agar proyek tetap feasible.

Hal ini menimbulkan lingkaran inflasi properti:

Harga tanah naik → modal pengembangan naik → harga rumah naik → akses masyarakat menurun → permintaan turun → pasokan premium tetap tinggi → pasar berubah dari mass-market menjadi segmented.

Tren 2025: Rumah Makin Mahal, Lahan Makin Langka

Tren harga rumah di pinggir DKI diprediksi masih akan melanjutkan kenaikan akibat:

1. Kelangkaan lahan berkualitas

2. Peningkatan biaya konstruksi

3. Perluasan jaringan transportasi massal

4. Terbentuknya pusat ekonomi baru di kota satelit

Dalam jangka panjang, pasar properti tetap dianggap sebagai instrumen investasi yang stabil, tetapi semakin tidak ramah untuk pembeli rumah pertama.

Kesimpulan

Fenomena harga rumah di pinggir DKI yang terus meledak menunjukkan betapa cepatnya transformasi kawasan satelit Jakarta. Di tengah kenaikan yang tidak terbendung ini, kamu perlu memahami dinamika pasar, membaca peluang lokasi baru, dan menghitung kemampuan finansial secara realistis sebelum memutuskan membeli hunian.

Jika kamu membutuhkan perspektif lanjutan terkait tren properti, pembiayaan, atau perencanaan investasi, tetap ikuti perkembangan berita dari berbagai sumber kredibel agar tidak salah langkah.

Tagar:

Wujudkan Rumah Impian & Peluang Investasi Terbaikmu

Dapatkan properti yang paling selaras dengan gaya hidup dan target investasimu. Baik untuk tempat tinggal maupun aset investasi, kami siap mendampingimu dalam mengambil keputusan bijak demi masa depan yang lebih aman.

images
Hubungi Kami